Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2016

Mengintip Suasana Liburan di Seminyak, Bali

Sumber: infoobjek.wordpress.com

Siapa sih yang nggak ingin berlibur ke Bali? Iya Bali, kota yang terkenal berkat keindahan panorama alamnya. Baik wisatawan mancanegara ataupun wisatawan lokal seringkali menjadikan Bali sebagai kota tujuan untuk menghabiskan liburan. Karena banyaknya wisatawan yang datang, terutama ke daerah Kuta dan sekitarnya seperti Legian dan Seminyak, banyak pula hotel yang didirikan di ketiga kawasan itu di Bali. Salah satu hotel yang berdiri di kawasan Seminyak adalah Four Point By Sheraton yang dapat Anda pesan di sini.

Four Point By Sheraton adalah hotel yang beralamat di Jalan Petitenget Gang Cendrawasih nomor 99, Seminyak. Hotel bintang 4 yang terpisah jarak sekitar 8,3 km dari Bandara Ngurah Rai ini memiliki desain modern yang dipadukan dengan unsur tradisional berupa panel batik. Unsur alam pun disertakan dalam desain interior dan eksteriornya, berupa kayu dan lapisan batu. Melengkapi unsur batu dan kayu, cantiknya tanaman hijau disisipkan pula pada area-area yang tepat pada desainnya.

Hotel ini menawarkan 121 kamar yang menyediakan suasana santai dan nyaman dengan beberapa tipe. Tipe kamar tertentu terletak di tepi kolam renang outdoor, sedangkan tipe kamar lain yang berada di lantai atas dilengkapi dengan balkon. Setiap kamar dilengkapi fasilitas layanan kamar 24 jam, AC, TV layar datar, kulkas, brankas, dan WiFi. Kamar mandi dalamnya dilengkapi bathtub dan shower yang terpisah, dan pengering rambut.
Sumber: kuoni.co.uk

Bermacam pilihan tempat spa berdiri dalam radius sekitar 0,1 - 0,2 km dari hotel ini, seperti The Bali Sanctum Spa Bali, Spa Bali Kuta, Pudak Ratu Spa, Spa Luna Legian, dan banyak lainnya. Tapi bagi Anda yang ingin menikmati spa tanpa meninggalkan hotel, tersedia fasilitas spa dengan treatment berkualitas yang siap memanjakan Anda di hotel ini. Tidak hanya itu, layanan pijat pun tersedia untuk mengendurkan kembali otot-otot Anda selepas berkeliling menjajaki tempat-tempat menarik di Bali.

Tersedia fasilitas kolam renang outdoor yang luas dengan pencahayaan yang membuatnya tampak semakin indah pada malam hari. Bila sekedar ingin bersantai, terdapat kursi-kursi berjemur di area berjemur di tengah kolam, di mana Anda bisa menikmati suasana sambil menikmati menu pilihan dari bar di kolam renang. 
Sumber: ftnnews.com

Area rooftop pun menawarkan suasana yang tepat untuk bersantai. Lengkap dengan kolam renang mininya, area ini cocok sekali bagi Anda yang ingin berenang dengan suasana berbeda atau menikmati damainya suasana petang di sana.    
Sumber: luxuryhotelawards.com

Saat ingin bersantap tanpa meninggalkan hotel, Anda dapat mengandalkan Restoran The Eatery yang menyediakan pilihan menu internasional. Anda yang menyukai menu santapan yang dipanggang, Restoran Best Brew siap memanjakan lidah Anda. Bila sekedar ingin menikmati makanan ringan, Wrapped hadir dengan beraneka ragam kue-nya yang lezat. Aneka ragam makanan ringan dan minuman juga siap disajikan oleh Vertigo untuk Anda yang ingin menikmatinya di puncak gedung.

Oh ya, selain menikmati berbagai fasilitas hotel, berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat menarik tentu juga menjadi agenda liburan Anda kan? Yang menjadi nilai plus dari Hotel Four Point By Sheraton ini adalah lokasinya yang dekat dengan tempat-tempat menarik sebagai berikut:

• Pantai Batu Belig
Sumber: Jdlines.com

Pantai ini berjarak sekitar 0,82 km dari hotel. Meskipun tidak seramai Pantai Kuta, namun pantai ini merupakan pilihan yang tepat untuk menikmati senja. Sebuah restoran di mana Anda dapat menikmati makan malam romantis bersama pasangan hadir di atas panggung. Di bawah panggung itu sendiri tersedia bar di mana Anda dapat menikmati suasana sambil menikmati beraneka ragam minuman.

• Pura Petitenget
Sumber: pasirpantai.com

Dari Pantai Batu Belig yang menawarkan keindahan alam Bali, kita beralih ke hal lain yang menjadi ciri khas Bali, yaitu pura. Salah satu keindahan Bali yang menjadi incaran wisatawan adalah Pura Petitenget. Pura yang dapat dicapai dengan menempuh jarak sekitar 0,84 km dari Hotel Four Point By Sheraton ini berlokasi di tepi Pantai Petitenget. Di sana Ada tidak hanya dapat menikmati suasana dan mengabadikan momen berlatar Pura dengan ukiran-ukiran khas Bali, tapi juga dapat menikmati jajanan khas nusantara seperti jagung rebus dan sate. Setelah puas menghabiskan waktu di area Pura dan pantai, Anda dapat mengunjungi sejumlah toko dan kafe yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Pura.

• Seminyak Square
Sumber: explorerhome.blogspot.com

Cukup berbeda dari spot wisata sebelumnya, Seminyak Square yang terpisah jarak sekitar 1,05 km dari hotel, menawarkan area belanja yang cukup lengkap. Selain toko-toko di dalam bangunan, terdapat pula tenda-tenda pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai barang dagangan, mulai dari pernak-pernik hingga pakaian. Sejumlah restoran juga tersedia di sini seperti Aviary Restaurant, Casa Gourmet, dan banyak lainnya. Bagi Anda yang berburu karya seni dan kerajinan tangan, sempatkan menapakkan kaki di sejumlah toko yang menawarkan beragam karya seni dan kerajinan tangan.

Nah, itulah sedikit gambaran mengenai suasana berlibur di kawasan Seminyak, Bali. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang berencana berlibur ke Bali ya? Selamat berlibur.



Minggu, 30 Oktober 2016

Nak, Inilah Indramayu, Kota Budaya di Pesisir Pantura

Nak, malam ini Ayah akan mengantarkan tidurmu dengan sebuah cerita. Pasti kamu senang sekali. Namun sebelumnya, Ayah akan memberikan satu nasehat untukmu ya? Satu saja, jadilah manusia yang pandai bersyukur, Nak. Bersyukur dalam hal apa saja, termasuk bersyukur karena kau lahir dan hidup di Nusantara.

Ya, Nusantara, negeri kepulauan yang membentang dari Sabang sampai ke Merauke di Papua, dari Miangas sampai ke pulau Rote di Nusa Tenggara sana. Nusantara adalah sebutan bagi negeri kita Indonesia, negeri eksotik yang dianugrahi Tuhan dengan berbagai macam keanekaragamannya. Salah satunya adalah keanekaragaman budaya.

Berbicara tentang budaya, kau tak perlu ragu lagi, Nak. Bahwa di setiap daerah di Nusantara ini mempunyai kekayaan budaya yang masing-masing mempunyai filosofi dan daya tarik sendiri-sendiri. Nah, malam ini Ayah akan bercerita tentang budaya sebuah daerah yang berjuluk Kota Mangga, yaitu Indramayu. Cerita ini tentu akan menjadi cerita yang mengasyikkan, yang akan mengantarkanmu beranjak mengarungi mimpi-mimpi malam.
Selain sebagai Kota Mangga, Indramayu juga sebagai Kota Budaya (Source: hipwee.com)

Mungkin suatu saat kau akan bertanya, kenapa harus mengenal budaya Indramayu. Padahal kau tidak dilahirkan di sana. Ayah ibumu juga bukan orang sana. Bahkan, sampai saat ini kaupun belum pernah menjejakkan kakimu di sana. Ketahuilah Nak, bahwa budaya daerah itu merupakan bagian dari budaya bangsa. Sehingga sebagai calon generasi penerus bangsa yang baik, kau juga harus mengenali budaya-budaya daerah lain. Termasuk budaya dari kabupaten yang mempunyai motto "Remaja" (Religius, Maju, Mandiri dan Sejahtera) ini.

Oh ya, di usiamu yang belum genap dua tahun, tentu kau belum tau tentang Indramayu kan? Indramayu adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Letaknya berada di pesisir pantai Utara Pulau Jawa. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Cirebon di tenggara, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Sumedang di selatan, serta Kabupaten Subang di sebelah barat.
Peta Kabupaten Indramayu (Source: trisnakrasak.blogspot.co.id)

Meskipun Indramayu berada di Jawa Barat yang kental dengan budaya dan bahasa Sunda, namun kalau kau tahu, tidak semua masyarakatnya berbahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Hanya sebagian kecil saja yang berbahasa Sunda, yakni di Indramayu bagian selatan dan barat daya. Sebagian besar masyarakat Indramayu menggunakan Bahasa Cirebon dialek Indramayu sebagai bahasa sehari-harinya. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Bahasa Dermayon.

Kalau kita belajar lebih jauh tentang Indramayu, kita akan tahu bahwa masyarakat Indramayu ini merupakan campuran antara suku Sunda dan Jawa. Sehingga budaya yang tumbuh dan berkembang di sana merupakan bentuk implementasi dari ekspresi masyarakat setempat yang dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Sunda. Bisa dikatakan, bahwa bentuk kebudayaannya merupakan akulturasi dari kedua kebudayaan tersebut.

Mungkin kita mulai dengan cerita tentang Nadran ya Nak? Nadran merupakan upacara tradisional masyarakat Indramayu yang berupa sedekah laut. Menurut sebagian masyarakat, Nadran berasal dari bahasa Arab, yaitu nadzaran. Kita sendiri lebih sering mengucapkannya dengan kata nadzar. Secara bahasa, nadzar artinya adalah pemenuhan janji. Konon, masyarakat nelayan di pesisir Indramayu berjanji, jika hasil tangkapan ikannya melimpah mereka akan melakukan syukuran.
Upacara Nadran yang digelar oleh masyarakat Karangsong Indramayu (Source: infopublik.id)

Harapan dari Nadran ini tentu tak lain agar hasil tangkapan ikan di masa yang akan datang akan lebih banyak lagi. Ini tentu sangat sesuai dengan nilai-nilai agama yang mengajarkan bahwa barang siapa yang bersyukur, maka Tuhan akan menambahkan nikmat kepadanya. Oh ya, jika kelak kau ingin menyaksikan upacara adat Nadran ini, berkunjunglah ke Pantai Eretan Kulon, Eretan Wetan, Dadap, Limbangan dan Karangsong di sekitar bulan Oktober sampai Desember.

Budaya berikutnya yang harus kau kenali adalah Ngarot. Ngarot merupakan upacara tradisional masyarakat Desa Lelea yang dilakukan di awal musim menggarap sawah. Biasanya dilaksanakan menjelang musim hujan tiba, sekitar bulan Oktober sampai Desember. Adapun harinya sudah ditetapkan yaitu hari Rabu, yang dipercayai oleh masyarakat sebagai hari yang mempunyai sifat bumi yang cocok untuk mengawali musim tanam. Tujuan dilaksanakannya upacara ini adalah agar para petani mendapatkan hasil pertanian yang melimpah.
Pakaian adat tradisi 'Ngarot' yang masih dipertahankan di Lelea, Indramayu (Source: poskotanews.com)

Nah, jika pada saatnya musim panen tiba, masyarakat Indramayu akan menggelar upacara Mapag Sri. Mapag Sri merupakan upacara yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas tibanya masa panen. Rasa syukur itu diwujudkan dengan melaksanakan pergelaran kesenian wayang kulit sehari semalam dengan lakon tertentu. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan di balai-balai desa.
Sejumlah perangkat desa merias pengantin padi sebelum acara adat Mapag Sri di Desa Juntinyuat, Indramayu (Source: beritadaerah.co.id)

Selanjutnya Nak, di Indramayu itu ada sebuah budaya yang cukup unik, yaitu Jaringan. Jaringan merupakan upacaranya para remaja yang bertujuan untuk mencari pasangan hidup. Kegiatannya bertempat di Pasar 'Jodoh' Parean, Kecamatan Kandanghaur. Ketika mengikuti upacara Jaringan, sebagai daya tariknya, para pemuda pria mengenakan kain sarung, sedangkan para wanita muda memakai kain rajutan.
Pasar Jodoh Parean, tempat tradisi menjaring jodoh di Indramayu (Source: www.merdeka.com)

Ada juga upacara Ngunjung, yaitu upacara syukuran yang dilaksanakan di beberapa makam tokoh keagamaan serta makam orang-orang yang dituakan oleh masyarakat. Biasanya dilaksanakan pada bulan Syuro dan Maulud. Pada upacara Ngunjung ini, selain diisi dengan kegiatan do’a bersama, juga ditampilkan beberapa kesenian khas daerah, seperti wayang cepak dan tari-tarian.
Tradisi Ngunjung Buyut Bengok di Desa Arahan Lor, Indramayu (Source: www.tosupedia.com)

Oh ya Nak, karena beberapa minggu yang lalu kau sempat sakit, Ayah jadi ingat kalau di Indramayu juga ada upacara Mapag Tamba. Mapag Tamba merupakan upacara yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengusir penyakit. Namun, penyakit yang dimaksud di sini adalah penyakit tanaman yaitu hama. Caranya adalah dengan membawa air tambak ke dalam bumbung bambu yang berasal dari kasepuhan atau sumber. Kemudian air itu disiramkan ke air yang mengalir ke sawah-sawah.
Pamong desa berjalan sambil membawa air dalam bambu pada ritual Mapag Tamba di Desa Tugu, Indramayu (Source: www.antarafoto.com)

Budaya yang ada di Indramayu tidak hanya itu, Nak. Masih banyak lagi yang lainnya. Dalam bidang seni musik ada kesenian yang dinamakan tarling, yaitu perpaduan seni musik dan lagu yang pada awalnya ditampilkan dalam bentuk nyanyian dengan iringan gitar dan seruling. Namun seiring kembangan zaman, kesenian tarling juga diiringi dengan musik dangdut sehingga lahirlah kesenian tarling dangdut.


Ini lho Nak, yang namanya Tarling Klasik Indramayu

Dalam seni tari, di Indramayu ada tari topeng. Disebut tari topeng, karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Tari topeng bisa dimainkan oleh seorang penari solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang. Tari topeng ini banyak sekali ragamnya. Salah satunya adalah tari topeng Kelana Kencana Wungu yang merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana Wungu yang dikejar-kejar oleh Prabu Menak Jingga yang tergila-tergila kepadanya.


Nah, kalau ini namanya Tari Topeng Indramayu, Nak..

Selain pertunjukan tari topeng, di Indramayu kita juga bisa menyaksikan pertunjukan wayang kulit serta wayang golek cepak. Sebenarnya, wayang kulit Indramayu ini sama dengan yang ada di daerah Cirebon. Perbedaannya hanya terletak pada bahasa yang digunakannya, yaitu bahasa Cirebon dialek Indramayu. Sedangkan wayang golek cepak, merupakan bagian dari wayang purwa. Yang membedakan wayang ini dengan lainnya adalah lakon dan alur cerita, serta bentuk dan rupa tokohnya yang tidak diambil dari pakem pawayangan.
Pertunjukan wayang kulit dalam Festival Dalang Wayang Se-Jabar di Indramayu (Source: fajarnews.com)

Oh ya, di Indramayu kita juga bisa menyaksikan pementasan kuda lumping loh. Iya, kuda lumping, kesenian dengan ciri khas penarinya yang menaiki kuda-kudaan yang terbuat dari kulit atau lumping sambil melakukan atraksi yang berbau magis itu. Selain kuda lumping, ada juga genjring akrobat, yaitu aktraksi dengan media tangga dan sepeda yang diiringi alat musik genjring atau rebana dengan dilengkapi dengan tari rudat. Hmm, kamu pasti suka sekali kalau menyaksikan pertunjukan-pertunjukan itu, Nak.


Seperti ini lho, Nak, aksi Genjring Akrobat.. Keren kan?

Sebenarnya masih banyak sekali kebudayaan yang ada di Indramayu yang akan Ayah ceritakan, Nak. Masih ada Sintren atau Lais, Berokan, Singa Depok, Kebo Ngamuk, Sandiwara, dan lain sebagainya. Belum lagi tentang aneka ragam makanan khasnya. Rasanya waktu satu malam memang tak akan cukup untuk menceritakan berbagai kebudayaan Indramayu ini. Karena memang kebudayaan Indramayu itu banyak sekali. Maka tak heran jika, kabupaten yang terbentuk pada tanggal 7 Oktober 1527 ini disemati sebagai Kota Budaya di pesisir Pantura.

Namun, Ayah lihat kau sudah ngantuk berat, Nak. Kedua mata indahmu sudah nampak sayu. Tinggal beberapa Watt saja. Lain waktu, cerita ini kita sambung lagi ya, Nak? Oh ya, jika suatu saat nanti kau berkesempatan berkunjung ke Indramayu, jadilah saksi atas aneka ragam budaya Indramayu yang sudah Ayah ceritakan ini ya? Kemudian ceritakanlah pada Ayahmu ini. Sekarang, berdo’a dan tidurlah. Esok yang cerah menunggu senyum tulusmu..

***

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Indramayu Kota Budaya
**Daftar Bacaan:

Rabu, 21 September 2016

Menelusuri Surga Kecil yang Tercecer di Tana Samawa

Siapa yang tidak mengakui kehebatan Nusantara? Ya, Nusantara, negeri kepulauan yang membentang dari Sabang sampai ke Merauke di Papua, dari Miangas sampai ke pulau Rote di Nusa Tenggara sana. Nusantara adalah sebutan bagi negeri Indonesia, negeri eksotik dengan segala macam keanekaragamannya. Salah satunya adalah keanekaragaman budaya.

Berbicara tentang budaya, tidak diragukan lagi bahwa di setiap daerah di Nusantara ini mempunyai kekayaan budaya yang masing-masing mempunyai filosofi dan daya tarik sendiri-sendiri. Demikian juga yang ada di Sumbawa, salah satu daerah yang berada di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Untuk melihat dengan jelas bagaimana budaya di Sumbawa, kiranya kita perlu menjelajah beberapa pedesaan yang ada di sana. Salah satunya adalah Dusun Pamulung, sebuah dusun yang termasuk dalam Wilayah Desa Karang Dima, Kecamatan Labuan Badas, yang terletak sekitar 8 km dari kota Sumbawa Besar. Dusun ini merupakan desa wisata, karena di desa tersebut dapat kita jumpai dan saksikan berbagai atraksi budaya daerah, seperti Karaci, Barapan Kebo, tari-tarian tradisional serta musik tradisional.
Barapan Kebo di Dusun Pamulung (Source: here)

Selain Dusun Pamulung ada juga wisata Desa Tepal, desa tradisional yang terletak sekitar 37 km dari pusat kota, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Batu Lanteh. Desa ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau dengan berkuda. Desa Tepal menyimpan banyak budaya tradisional, karena masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat dan budaya Samawa. Hal ini dapat dilihat dari cara berpakaian, cara hidup dan bentuk rumah yang unik, sehingga desa ini disebut juga Desa Adat.
Desa Tepal yang menyimpan banyak budaya tradisional (Source: here)

Desa adat yang tak kalah menarik untuk dikunjugi adalah Desa Poto, salah satu desa di Kabupaten Sumbawa yang juga tetap memelihara kelestarian budaya daerah seperti tenunan tradisional, pembuatan gerabah dan atraksi permainan rakyat seperti pacuan kuda, karapan kerbau. Desa Poto letaknya di Kecamatan Moyo Hilir, kira-kira 13 km dari kota Sumbawa Besar. Desa ini dapat dengan mudah dijangkau dengan sarana transportasi darat yang senantiasa melayani trayek di daerah tersebut setiap hari. 
Pengrajin tenun tradisional di Desa Poto (Source: here)

Selain desa-desa tersebut, satu lagi daerah yang masih mempertahankan sifat tradisionalnya, yaitu Dusun Talwa. Dusun Talwa merupakan dusun pandai besi (Black Smith) yang terkenal dalam pembuatan pisau, parang, cangkul, tembilang, dan sebagainya. Dusun Talwa yang oleh para wisatawan dijuluki sebagai Blingin Jerman ini terletak di kecamatan Moyo Hulu, berjarak 14 km dari kota Sumbawa Besar. Dan masih banyak lagi daerah unik di Sumbawa dengan beragam adat istiadatnya yang menarik.
Dusun Talwa yang terkenal dengan pandai besinya (Source: here)

Memang, berbicara tentang Sumbawa tak akan ada endingnya. Karena memang banyak hal menarik yang bisa diperbincangkan dari daerah berjuluk Tana Samawa ini. Dan jika kita membahas tentang Sumbawa, kiranya kita tak perlu mempertanyakan tentang keindahahan panorama alamnya. Karena memang setiap sudut pemandangan di Tana Samawa ini, keindahannya tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Untuk membuktikannya, kiranya kita perlu berkunjung ke pantai Saliper Ate. Saliper yang berarti penyejuk, dan Ate berarti hati. Sesuai dengan namanya, pantai Saliper Ate berarti pantai yang dapat menyejukkan hati pengunjungnya. Pantai ini terletak sekitar 5 km di sebelah barat kota Sumbawa Besar. Lokasinya yang mudah dijangkau dengan transportasi darat, membuat pantai ini menjadi obyek wisata pertama yang harus kita kunjungi jika datang ke Sumbawa.
Pantai Saliper Ate, penenang hati di Sumbawa (Source: here)

Pantai yang tak kalah indah selanjutnya adalah pantai Kencana. Jaraknya sekitar 11 km dari Kota Sumbawa Besar. Dengan bentuk pantai yang melengkung dan di kedua ujung lengkungannya masing-masing mempunyai rona tersendiri membuat panorama pantai ini sangat menawan. Terlebih, di lengkungan bagian kanannya berdiri batu karang dengan lubangnya yang setiap saat dihalau oleh ombak. Pemandangan yang benar-benar menakjubkan siapapun yang menyaksikannya.
Panorama Pantai Kencana yang memanjakan mata (Source: here)

Destinasi yang juga tak boleh terlupakan ketika kita mengunjungi Sumbawa adalah Pulau Moyo (Moyo Island). Pulau Moyo ini terletak di sebelah utara Sumbawa, di depan teluk Saleh. Pulau dengan luas kurang lebih 30 hektare ini menyimpan sejuta pesona yang tergambar di berbagai obyek wisatanya yang sangat menarik. Salah satunya, adalah air terjun bertingkat yang akan memanjakan mata setiap pengunjungnya.
Pulai Moyo yang menyimpan sejuta pesona (Source: here)

Jika datang ke pulau Moyo, jangan pernah melewatkan untuk menelusuri keindahan pantai Ai Manis. Pantai berpasir putih yang terletak di daratan pulau Moyo ini mempunyai pemandangan bawah laut yang sangat indah dengan terumbu karang dan tropikal fish-nya yang menawan. Dilengkapi dengan hutan tropis yang ada disekitarnya, menjadikan Ai Manis ini sangat cocok bagi kegiatan camping dan snorkling. Dari Ai manis, kita juga dapat menyaksikan eksotisme tenggelamnya matahari (sunset). Ai Manis ini dapat ditempuh lebih kurang 30 menit dengan speed boat dari Ai Bari, kecamatan Moyo Hilir.
Pantai Ai Manis yang eksotis (Source: here)

Selain Pulau Moyo, ada juga pulau yang tak kalah indah. Ya, Pulau Kenawa, sebuah pulau yang terletak di Sumbawa Barat. Pulau ini adalah pulau kosong tak berpenghuni yang ditumbuhi ilalang serta rumput-rumput hijau. Pulau ini sangatlah mudah dikenali, karena terdapat satu bukit di pulau tersebut. Tidak butuh waktu sejam untuk menaklukkan bukit tersebut dan menapakkan kaki di puncak tertingginya. Pulau ini juga memiliki pantai berpasir putih dan juga warna laut yang mampu menyegarkan penglihatan.
Pulau Kenawa, salah satu surga kecil di Sumbawa (Source: here)

Satu lagi yang tak boleh dilewatkan adalah wisata alam Teluk Saleh (Saleh Bay). Teluk Saleh merupakan gugusan berpasir putih dengan koralnya yang indah dan beraneka ragam ikan hias. Dari Teluk Saleh ini, kita juga dapat menyaksikan dengan jelas Gunung Tambora yang mempunyai kawah (Caldera) terluas di dunia.
Panorama alam di Teluk Saleh (Source: here)

Selain tempat-tempat tersebut, masih banyak lagi tempat indah lain di Sumbawa. Rasanya tak cukup sebuah buku tebal untuk menggambarkan keragaman budaya serta keindahan panorama alamnya. Keragaman budaya serta sejuta pesona itulah yang juga menjadikan tempat-tempat tersebut layak untuk dijuluki sebagai surga kecil yang tercecer di Tana Samawa.

Dengan sejuta pesona itu pula, maka tak heran jika seorang Youk Tanzil, founder sekaligus Executive Producer RoFA, menjadikan Tana Samawa ini sebagai salah satu daerah yang dilewati dan disinggahinya dalam perjalanan ekspedisi ke wilayah timur Indonesia. Ekspedisi 65 hari yang bertajuk ‘Return to The East’ ini dapat kita saksikan dalam program Ring of Fire Adventure (RoFA) yang disiarkan oleh Kompas TV.

Program Ring of Fire Adventure (RoFA) tersebut mengajak kita mengeksplor Indonesia Timur dengan cara yang berbeda, bukan sekedar travelling semata. Akan tetapi memotivasi kaum muda untuk memahami Indonesia dan melakukan perjalanan agar melihat realitas kekayaan Nusantara dari dekat. Untuk selanjutnya memungkinkan kita untuk lebih banyak belajar tentang toleransi dengan memaknai kembali perbedaan adat, budaya, serta agama sebagai sebuah karunia yang harus diterima dan disyukuri.


#GBCRoFA #RoFA 
***
*Tulisan ini diikutsertakan dalam Gramedia Blogger Competition x Kompas TV

Selasa, 20 September 2016

Membangunkan Roro Jonggrang di Candi Prambanan

Konon, pada suatu hari yang indah di tanah Mataram…

Roro Jonggrang, seorang puteri raja yang kecantikannya tiada tara, sedang meratapi kematian ayahnya, Prabu Boko, yang gugur di tangan seorang Pangeran dari Kerajaan Pengging, kerajaan di sebelah wilayah kerajaan Boko.

Sementara di tempat lain, Bandung Bondowoso, nama Sang Pangeran yang terkenal sakti mandraguna itu, tengah berupaya menaklukkan rasa gundah gulananya karena telah membunuh ayah dari Roro Jonggrang. Sebagai seorang Pangeran, ia memang harus menjaga keutuhan wilayah kekuasaan kerajaannya. Akan tetapi di sisi lain, hatinya tak tega melihat penderitaan seorang puteri cantik yang kehilangan ayahnya. Untuk menebus rasa bersalahnya, maka sebagai laki-laki sejati, ia berniat untuk mempersunting Roro Jonggrang, dengan harapan ia bisa menjaga Sang Puteri seumur hidupnya.
Candi Boko, yang menurut legenda adalah pusat kekuasaan Prabu Boko (Image Source)

Namun, perasaan cinta dan sayang yang tulus dari seorang Bandung Bondowoso untuk memperisteri Roro Jonggrang, tidak serta merta disambut Sang Puteri dengan tangan terbuka. Bagaimana tidak? Roro Jonggrang tentu tidak mau menerima lamaran Bandung Bondowoso, laki-laki yang telah membunuh ayahnya. Tetapi sebagai seorang puteri yang hidup dengan penuh etika dan tatakrama, ia harus menggunakan cara-cara yang anggun untuk menolak sebuah lamaran tanpa memperlihatkan sikap penolakannya.

Setelah berpikir panjang, Sang Putri bersedia menerima lamaran Sang Pengeran dengan dua syarat. Pertama, Bandung Bondowoso harus membuat sebuah sumur Jalatunda. Dan yang kedua, Bandung Bondowoso harus membuat seribu candi. Kedua syarat itu harus selesai dalam sehari semalam. Mungkin, jika mendengar persyaratan itu, sebagian laki-laki akan mundur teratur. Namun, tidak dengan Bandung Bondowoso. Atas nama cinta dan kasih sayang dan dengan bermodal kesaktiannya, ia menyanggupinya.
Sumur Jalatunda di Dieng, diyakini sebagai bagian dari legenda Roro Jonggrang (Image Source)

Ternyata dengan tekad yang kuat, Bandung Bondowoso pun dengan mudah berhasil menyelesaikan syarat pertama, membangun sumur Jalatunda. Kini, ia hanya tinggal menyelesaikan persyaratan kedua, membangun seribu candi! Sepertinya mustahil membangun seribu candi dalam waktu sehari semalam. Namun, sebagai seorang Pangeran yang sakti, pekerjaan itu tentu bukan sesuatu yang teramat sulit. Dan dengan kesaktiannya, ia berhasil meminta bantuan para makhluk halus untuk membangun seribu candi. 

Melihat pembangunan seribu candi itu hampir selesai, Roro Jonggrang mulai khawatir. Ia segera membangunkan seluruh perempuan desa untuk mulai menumbuk padi pada lesung-lesung. Ia juga memerintahkan para dayangnya untuk membakar jerami pada sisi timur desa. Tujuannya tak lain untuk menampakkan bahwa seolah-olah waktu malam sudah hilang, dan pagi telah datang. Bahkan, melihat kegiatan pagi sudah berlangsung, ayam-ayam pun terperdaya dan mulai berkokok bersaut-sautan. 
Ilustrasi ayam berkokok mendengar suara lesung (Image Source)

Pun demikian dengan para makhluk halus yang membantu Bandung Bondowoso. Mereka lari tunggang langgang meninggalkan pekerjaan yang sudah mencapai 999 candi, karena mengira bahwa sebentar lagi sang mentari akan terbit. Dengan itu, maka Bandung Bondowoso dinyatakan gagal untuk memenuhi syarat yang diajukan oleh Roro Jonggrang.

Mengetahui bahwa kegagalan itu adalah akibat dari tipu muslihat Sang Putri, Bandung Bondowoso pun murka. Ia tak lagi percaya akan gerak gemulai dan kecantikan Roro Jonggrang. Dan dalam kemurkaannya itu, dengan kesaktiannya ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu, sekaligus untuk melengkapi sebagai candi yang ke seribu.
Arca Durga di ruang utara Candi Prambanan (Image Source)

Konon, menurut legenda, arca Durga yang sampai saat ini mendiami ruang sebelah utara di Candi Prambanan adalah perwujudan dari Sang Putri yang dikutuk menjadi batu oleh Bandung Bondowoso. Sehingga, bangunan yang indah itu selain dikenal sebagai Candi Prambanan, juga dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang, yang berarti gadis cantik nan semampai.

Legenda Roro Jonggrang yang sudah diceritakan sejak kecil itu kembali memenuhi benak saya ketika melangkah melalui pintu masuk Candi Prambanan beberapa waktu yang lalu. Meski sudah mulai dituturkan sejak ratusan tahun yang lalu, namun warisan budaya berupa legenda Roro Jonggrang tersebut sampai hari ini seolah tak lekang oleh waktu. Bukan hanya legendanya, namun Candi Roro Jonggrang hingga kini juga masih berdiri menawan menyambut siapa saja yang datang mengunjunginya.
Jalan masuk ke pelataran utama Candi Prambanan (Dok. Pribadi)

Di luar kisah Roro Jonggrang yang beredar di masyarakat, candi ini diperkirakan mulai dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, sekitar abad ke-9 Masehi. Menurut prasasti Siwaghra yang saat ini tersimpan rapi di Museum Nasional Indonesia, nama asli candi ini adalah Siwaghra. Kata Siwaghra sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yang artinya adalah Rumah Siwa. Dari prasasti tersebut, kita dapat mengetahui bahwa Rakai Pikatan membangun Candi Prambanan ini sebagai bukti rasa cinta sekaligus sebagai persembahan bagi Dewa Siwa.
Peta pelataran utama Candi Prambanan (Image Source)

Jika kita mengunjungi Candi Prambanan, kita dapat menyaksikan tiga candi utama yang berdiri kokoh di tengah candi-candi kecil yang mengelilinginya. Ketiga candi tersebut adalah Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa yang merupakan lambang Trimurti dalam kepercayaan agama Hindu. Ketiga candi utama yang menghadap ke timur itu, masing-masing memiliki satu candi pendamping yang berdiri menghadap ke barat, yaitu candi Nandini, Angsa dan Garuda. Selain candi utama dan candi pendamping tersebut, masih banyak sekali candi lain di kompleks ini, yaitu Candi Kelir, Candi Apit, Candi Patok, dan Candi Perwara, serta candi-candi kecil lainnya. 
Candi Patok, salah satu candi di sudut pelataran utama (Dok. Pribadi)

Entah kenapa, ketika melihat susunan batu candi, saya selalu merasa takjub dan terpesona. Demikian juga ketika saya melihat Candi Siwa, candi tertinggi yang terletak di tengah-tengah. Saat memasuki candi ini, kita akan menemukan empat buah ruangan. Satu ruangan berisi arca Siwa. Sedangkan tiga ruangan yang lain masing-masing berisi arca Agastya (guru Siwa), Ganesha (putra Siwa) dan Durga (istri Siwa), yang dalam legenda disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang.
Candi Siwa yang menjulang setinggi 47 meter (Dok. Pribadi)

Tak sampai di situ, keterpesonaan saya berlanjut ketika keluar dari Candi Siwa kemudian melanjutkan langkah menikmati pemandangan candi-candi yang ada di sekitarnya. Di Candi Wisnu, kita akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Pun demikian juga di Candi Brahma yang memiliki satu ruangan berisi arca Brahma. 

Selesai mengagumi tiga candi utama, saya melanjutkan langkah kaki menuju candi-candi pendamping. Menurut saya, yang paling menarik di antara candi pendamping adalah Candi Garuda. Menarik, karena candi ini menyimpan sebuah kisah tentang Garuda, sosok manusia setengah burung dalam mitologi Hindu. Konon, Garuda sendiri merupakan burung mistik yang berparuh dan bersayap mirip elang, bertubuh emas, dan berwajah putih, serta bersayap merah.
Candi Garuda yang menyimpan kisah Garuda, sosok manusia setengah burung (Dok. Pribadi)

Selain berbagai tipe candi tersebut, di tempat wisata budaya ini, kita juga dapat menjumpai relief yang menceritakan tentang dua kisah yang sangat fenomenal, yaitu kisah Ramayana dan Krishnayana. Relief ini terpahat di dinding pagar yang mengelilingi Candi Trimurti bagian dalam. Relief Ramayana menceritakan tentang perjuangan Sang Rama yang dibantu oleh Hanoman, Si Kera Putih untuk merebut Shinta, istrinya yang diculik oleh Rahwana. Sedangkan Krishnayana, relief ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Krishna sebagai awatara atau reinkarnasi dari  Wishnu.
Relief Ramayana yang terpahat di dinding candi (Dok. Pribadi)

Relief lain yang bisa kita saksikan di candi ini adalah relief seekor singa yang diapit oleh pohon Kalpataru. Keberadaan relief pohon Kalpataru inilah yang kemudian membuat para ahli sejarah menganggap bahwa masyarakat pada abad ke-9 sudah memiliki kearifan dalam mengelola lingkungan hidup. Sebagaimana dalam filosofi, pohon Kalpataru adalah pohon kehidupan yang rindang serta meneduhkan.
Relief singa yang diapit dua pohon Kalpataru (Dok. Pribadi)

Ya, tak ubahnya Candi Prambanan yang saat itu memberi keteduhan kepada saya di bawah teriknya matahari. Dan di balik keteduhan candi ini, saya kembali melihat ke pelataran. Di sana masih menyimpan sejuta cerita yang tersembunyi di balik ribuan reruntuhan batu yang hingga hari ini masih belum tersusun dengan rapi.
Ribuan tumpukan batu yang masih menyimpan sejuta cerita (Dok. Pribadi)

Hamparan batu candi yang berserakan di pelataran membuat saya merenung dan kemudian tersenyum sendiri. Bagi saya, candi ini sangat luar biasa berkesannya. Bukan sekedar kisah Roro Jonggrang semata yang ada di dalam tumpukan batu serta bangunan candi-candi yang berdiri dengan megahnya. Akan tetapi, di sana juga tersimpan sejuta cerita dan pesona yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Maka tak heran, jika Candi Prambanan ini menjadi bagian dari Jogja Heritage yang sangat berharga. Bahkan, UNESCO pun pada tahun 1991 silam menetapkannya sebagai World Wonder Heritage (Warisan Budaya Dunia).
Candi Prambanan, satu dari banyak Jogja Heritage yang harus tetap lestari (Dok. Pribadi)

Maka, amat disayangkan jika pesona candi yang menjulang setinggi 47 meter ini hilang tanpa cerita. Amat disayangkan juga jika anak-anak kita kelak lebih mengenal cerita-cerita sinetron dibanding dengan kisah Roro Jonggrang. Dan sebagai pewaris budaya bangsa, tak ada hal lain yang harus kita lakukan, selain mengunjunginya dan 'membangunkan' Roro Jonggrang yang ada di sana. Bukan membangunkan arca Roro Jonggrang dalam arti yang sebenarnya. Melainkan dalam artian membangunkan nilai-nilai budaya yang ada, yakni dengan cara: kunjungi, cintai, dan lestarikan.
Bidadari kecilku, Si Zizi pun tertidur pulas di dalam buaian kisah Roro Jonggrang (Dok. Pribadi)

Candi Prambanan dengan legenda Roro Jonggrangnya tentu hanya sebagian kecil dari warisan sejarah dan budaya yang ada di Jogjakarta. Masih banyak Jogja Heritage lain yang harus dilestarikan. Karena memang tak bisa kita pungkiri, Jogjakarta adalah kota kuno yang telah tergabung dalam Liga Kota Bersejarah di dunia bersama lebih kurang 100 kota lainnya. Jogjakarta adalah kota sejarah sekaligus kota budaya yang memiliki ratusan warisan yang dapat dikategorikan sebagai heritage, baik warisan yang berwujud (tangible) ataupun warisan yang tidak berwujud (itangible).
Kiri: Keraton Jogja (Image Source), kanan atas: Kotagede (Image Source), dan kanan bawah:  Situs Taman Sari (Image Source)

Dalam hati kecil, saya membatin. Mungkin suatu saat saya harus berkunjung ke Kotagede, untuk menyaksikan artefak-artefaknya sebagai bukti peninggalan kejayaan Kerajaan Mataram Islam. Atau berkunjung ke Keraton Jogja yang merupakan sarana pelestarian budaya Jawa di tengah gerusan modernitas zaman. Atau juga ke Taman Sari, Kotabaru, Benteng Vredeburg, Museum Sonobudoyo, Pasar Beringharjo dengan koleksi batiknya, serta warisan-warisan lain yang tentu tak cukup waktu sehari atau dua hari untuk menyaksikan betapa berharga dan indahnya warisan budaya yang ada di Jogjakarta ini. Belum lagi warisan berupa Batik, Tari Serimpi, Gamelan, dan lain sebagainya. Ah, betapa banyaknya warisan budaya Jogja ini..
Kiri: Benteng Vredeburg (Image Source), kanan atas: Pasar Beringharjo (Image Source), dan kanan bawah: Museum Sonobudoyo (Image Source)

Namun, belum selesai membayangkan begitu istimewanya Jogja, tiba-tiba hujan turun dan membuyarkan lamunan. Tapi saya yakin, guyuran air hujan tak akan menghentikan bus-bus yang masuk memenuhi tempat parkir Candi Prambanan ini. Sebentar lagi pengunjung lain akan berdatangan untuk memberi warna baru pada candi ini. Saya bangkit dan membereskan barang bawaan, kemudian melangkah pulang bersama legenda Roro Jonggrang…
#Heritageku #Heritagemu #Heritagekitasemua

***
*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blogger Jogja Heritage